Rabu, 31 Oct 07 - 02 Nov 07, Balikpapan - Buana Lestari.
...memang membutuhkan suatu keberanian yang tidak sedikit untuk berjumpa dengan seorang hanya biasa ajak ngobrol dan ketemu melulu melalui email dan chatting, itulah kemajuan tehnologi dan keterbukaan keinginan dan kebebasan individu, tiada batas juga tiada rasa takut sedikitpun bagi mereka walaupun hanya awal berkenalan dari dunia maya..
mencoba berbagi informasi sekitar aktivitas sebagai pekerja kilang yang katanya sudah mendapat predikat operator kilang kelas dunia serta juga untuk berbagi informasi sekitar kehidupan dikota kami
Friday, November 9, 2007
Wednesday, September 12, 2007
ziarah kubur
..saat sebelum berangkat ke LNG site, aku sudah pernah mengatakan pada saudara kakakku yang tertua melalui telepon gratis fasilitas perusahaan dimana aku bekerja yakni bila kembali dari LNG site menjelang bulan puasa maka aku akan ke Palembang untuk ziarah ke makam emak. Terakhir aku melakukan ritual tersebut pada Agustus tahun silam, dimana sambil bernostagia menonton Bidar lomba perahu tradisional di sungai Musi, aku menyempatkan diri juga untuk berziarah.
Puasa tahun ini berdasarkan kalender akan dilaksanakan pada hari ke 13 di bulan September. Di Palembang menjelang memasuki bulan puasa adalah kebiasaan turun temurun atau ritual untuk mengunjungi makam atau ziarah kubur yang mana adalah tradisi masyarakat asli Palembang. Begitupun dengan aku yang sudah cukup lama meninggal kan kota kelahiranku tersebut, lebih dari separuh usiaku dihabiskan dirantau, tapi tradisi tersebut tetap saja tidak bisa hilang dari kehidupan kami. Seperti yang kulakukan pada Kamis 6 September yang lalu, dengan menumpang Adam Air terpagi dari Jakarta, dan dimana pada pukul 9 nya aku bersama beberapa saudara tuaku, kami sudah berada dipemakaman keluarga Ungkonan H. Asaarie daerah Puncak Sekuning Palembang (yang masuk dari jalan Cipto).
Seperti biasa ritual yang dilakukan yakni membaca surah Yasin, berdoa kemudian dilanjutkan dengan upacara naluriah yakni membersihkan area sekitar kuburan dari rumput semak belukar serta alang alang liar yang selalu saja tumbuh.
Pagi itu belum terlihat rombongan anak anak penjual bunga dan penjual jasa nebas pembersih rumput yang biasa dating menyerbu, memang dimungkinkan karena hari tersebut bukanlah hari Jumat.
Orang tua kami, Ningdep binti H. Matjik yang meninggal pada tanggal 23 Januari 1981 dalam usia 64 tahun, meninggalkan suami serta beberapa putra putri almarhumah dimana saat itu akulah yang merasa yang paling terpukul dengan kepergian beliau. Aku adalah bungsu putra terakhir yang saat itu masih berusia 21 tahun yang baru saja diterima bekerja dan dalam status menjalani ikatan dinas disatu perusahaan migas yang berlokasi di Kalimantan Timur.
Sampai saat ini aku sepertinya selalu merasa ada yang belum selesai antara janjiku dengan almarhumah, dimana saat itu kepada almarhumah aku sempat berjanji bahwa bila menerima gaji pertama maka gaji tersebut akan kuberikan semuanya kepada beliau, tapi entah kenapa sampai aku sudah menerima gaji yang ke enam malahan dan yang bersamaan dengan mangkatnya beliau, janjiku tersebut belum juga bisa terealisasi. Sampai sekarang menjadi pelajaran bagi diriku pribadi bila mengingat hal tersebut seperti bait syair sebuah lagu lama “jangan berjanji bila tak kau tepati..”
Puasa tahun ini berdasarkan kalender akan dilaksanakan pada hari ke 13 di bulan September. Di Palembang menjelang memasuki bulan puasa adalah kebiasaan turun temurun atau ritual untuk mengunjungi makam atau ziarah kubur yang mana adalah tradisi masyarakat asli Palembang. Begitupun dengan aku yang sudah cukup lama meninggal kan kota kelahiranku tersebut, lebih dari separuh usiaku dihabiskan dirantau, tapi tradisi tersebut tetap saja tidak bisa hilang dari kehidupan kami. Seperti yang kulakukan pada Kamis 6 September yang lalu, dengan menumpang Adam Air terpagi dari Jakarta, dan dimana pada pukul 9 nya aku bersama beberapa saudara tuaku, kami sudah berada dipemakaman keluarga Ungkonan H. Asaarie daerah Puncak Sekuning Palembang (yang masuk dari jalan Cipto).
Seperti biasa ritual yang dilakukan yakni membaca surah Yasin, berdoa kemudian dilanjutkan dengan upacara naluriah yakni membersihkan area sekitar kuburan dari rumput semak belukar serta alang alang liar yang selalu saja tumbuh.
Pagi itu belum terlihat rombongan anak anak penjual bunga dan penjual jasa nebas pembersih rumput yang biasa dating menyerbu, memang dimungkinkan karena hari tersebut bukanlah hari Jumat.
Orang tua kami, Ningdep binti H. Matjik yang meninggal pada tanggal 23 Januari 1981 dalam usia 64 tahun, meninggalkan suami serta beberapa putra putri almarhumah dimana saat itu akulah yang merasa yang paling terpukul dengan kepergian beliau. Aku adalah bungsu putra terakhir yang saat itu masih berusia 21 tahun yang baru saja diterima bekerja dan dalam status menjalani ikatan dinas disatu perusahaan migas yang berlokasi di Kalimantan Timur.
Sampai saat ini aku sepertinya selalu merasa ada yang belum selesai antara janjiku dengan almarhumah, dimana saat itu kepada almarhumah aku sempat berjanji bahwa bila menerima gaji pertama maka gaji tersebut akan kuberikan semuanya kepada beliau, tapi entah kenapa sampai aku sudah menerima gaji yang ke enam malahan dan yang bersamaan dengan mangkatnya beliau, janjiku tersebut belum juga bisa terealisasi. Sampai sekarang menjadi pelajaran bagi diriku pribadi bila mengingat hal tersebut seperti bait syair sebuah lagu lama “jangan berjanji bila tak kau tepati..”
Monday, August 27, 2007
Jakarta - Biak
Lama tidak menulis disini, di-blog ya dikarenakan efektip pertanggal 6 August kami sudah berada dilokasi tempat kerja baru kami yakni di Bintuni Papua Barat. Perjalanan panjang yang sangat melelahkan dari tempat kost dibilangan Pedurenan Karet 57 Kuningan Jakarta Selatan sekitar pukul 16.15 saya keluar berjalan kaki kejalan utama Rasuna Said dari situ menumpang busway koridor 6 (berpindah pindah di halte Halimun, Duku Atas, berpindah lagi di Harmoni) yang tujuan Gambir dan memakan waktu perjalanan sekitar 1 jam.
Menumpang Bis dengan tujuan airport yang juga memakan waktu sekitar 1 jam (melalui tol), sampailah saya di bandara kebanggaan republik ini - Soekarno Hatta Cengkareng. Karena sudah masuk waktu magrib, sayapun ikut melakukan sholat berjamaah bersama.
Waktu terus berjalan, sambil menunggu kedatangan rombongan rekan rekan lainnya, dikarenakan perut terasa lapar, saya mencoba mengisinya dengan fastfood. Ketika berada di restourant cepat saji tsb, datang dua rekan lainnya yang bergabung yang datang dari Surabaya dan Bandung.
Pukul 21.00, semuanya yang berjumlah hampir 20 orang tersebut sudah menunggu diterminal keberangkatan. Pesawat baru bisa diberangkatkan pada pukul 22.15 (delay sekitar 30 menit, dengan alasan klasik dikarenakan keterlambatan datang dari kota sebelumnya).
Dikarenakan hampir semua penumpang adalah penumpang transit dari berbagai kota di Indonesia Barat, maka perjalanan malam tsb adalah perjalanan untuk beristirahat, hampir semua penumpang burung raksasa itu tertidur pulas dikursinya masing masing.
Perjalanan route Jakarta - Makassar ditempuh selama 2 jam 10 menit, pukul 01.30 pesawat mendarat di Hasanudin Ujung Pandang, beristirahat sejenak sekitar 30 menitan sambil memasukkan penumpang, maka pesawat tersebutpun melanjutkan perjalanannya menuju Biak. Lama perjalanan Makassar - Biak ditempuh dalam waktu 2 jam 40 menit. Dikarenakan ada perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Biak, maka pesawat mendarat di bandara Frans Kaisepo pada pukul 6 pagi dimana pramugari menginformasikan bahwa suhu udara saat itu adalah 24 derajat Celcius (perjalanan ini adalah salasatu perjalanan yang mengesankan yang dialami dimana saat melihat keluar dari jendela, terlihat dimana posisi pesawat masih berada didunia yang gelap malam tapi diufuk timur sudah terlihat terang bias sinar mentari terbit pagi, wau amboi sungguh luarbiasa pemandangannya...excellent..!!)
Menumpang Bis dengan tujuan airport yang juga memakan waktu sekitar 1 jam (melalui tol), sampailah saya di bandara kebanggaan republik ini - Soekarno Hatta Cengkareng. Karena sudah masuk waktu magrib, sayapun ikut melakukan sholat berjamaah bersama.
Waktu terus berjalan, sambil menunggu kedatangan rombongan rekan rekan lainnya, dikarenakan perut terasa lapar, saya mencoba mengisinya dengan fastfood. Ketika berada di restourant cepat saji tsb, datang dua rekan lainnya yang bergabung yang datang dari Surabaya dan Bandung.
Pukul 21.00, semuanya yang berjumlah hampir 20 orang tersebut sudah menunggu diterminal keberangkatan. Pesawat baru bisa diberangkatkan pada pukul 22.15 (delay sekitar 30 menit, dengan alasan klasik dikarenakan keterlambatan datang dari kota sebelumnya).
Dikarenakan hampir semua penumpang adalah penumpang transit dari berbagai kota di Indonesia Barat, maka perjalanan malam tsb adalah perjalanan untuk beristirahat, hampir semua penumpang burung raksasa itu tertidur pulas dikursinya masing masing.
Perjalanan route Jakarta - Makassar ditempuh selama 2 jam 10 menit, pukul 01.30 pesawat mendarat di Hasanudin Ujung Pandang, beristirahat sejenak sekitar 30 menitan sambil memasukkan penumpang, maka pesawat tersebutpun melanjutkan perjalanannya menuju Biak. Lama perjalanan Makassar - Biak ditempuh dalam waktu 2 jam 40 menit. Dikarenakan ada perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Biak, maka pesawat mendarat di bandara Frans Kaisepo pada pukul 6 pagi dimana pramugari menginformasikan bahwa suhu udara saat itu adalah 24 derajat Celcius (perjalanan ini adalah salasatu perjalanan yang mengesankan yang dialami dimana saat melihat keluar dari jendela, terlihat dimana posisi pesawat masih berada didunia yang gelap malam tapi diufuk timur sudah terlihat terang bias sinar mentari terbit pagi, wau amboi sungguh luarbiasa pemandangannya...excellent..!!)
Sunday, July 29, 2007
XXI
Setelah menyusuri sekitar glodok sambil mencari sesuatu yang akhirnya tidak diketemukan, maka dengan menumpang busway yang ongkosnya 3500 itu, meneruskan perjalanan dihari libur kerja sabtu 28 Juli '07.
Berhenti melalui halte bundaran senayan, kemudian menyusuri melalui jalan tembus gedung bank Panin, dan malui area parkir masuk ke Plaza Senayan
Berhenti melalui halte bundaran senayan, kemudian menyusuri melalui jalan tembus gedung bank Panin, dan malui area parkir masuk ke Plaza Senayan
kristal hotel
pada hari Senin sampai Rabu, juga Jumatnya, bersama beberapa rekan mengikuti training ISSOW dari konsultan Petropac dengan instruktur gaul Mr Kenn Hal (memakai anting telinga dan rambur panjang terkuncir rapi).
Pelatihan untuk pembuatan surat perintah kerja tsb berlangsung disatu hotel berbintang didaerah Terogong
Pelatihan untuk pembuatan surat perintah kerja tsb berlangsung disatu hotel berbintang didaerah Terogong
Saturday, July 21, 2007
Inul Daratista
Setelah bubaran dari menyaksikan Ireng Maulana, kemudian berlokasi di sekitar festival, berhubung waktu belum terlalu malam, kami melanjutkan menikmati jalan malam ini menuju ke Vista yaitu tempat karaoke yang dimiliki Inul daratista.
banyaknya pengunjung yang menikmati malam panjang membuat antrian daftar tunggu harus dilakukan.
banyaknya pengunjung yang menikmati malam panjang membuat antrian daftar tunggu harus dilakukan.
Ireng Maulana
Tadi malam, kami berempat keluar makan malam di Pasar Festival, dimana setiap Jumat malam ada panggung terbuka dengan suguhan spesial dari Ireng Maulana bersama rekan.
Dengan harga makanan yang cukup terjangkau, kami memesan makanan sesusai selera masing masing, karena disitu memang tersedia foodcourt dengan berbagai pilihan makanan.
Ireng maulana memulai pertunjukkan dari pukul 18.30 dan saat kami datang adalah penampilan kedua setelah mereka break makan malam.
Tadi malam menampilkan dua penyanyi yang memiliki suara tidak nge jazz banget tapi cukup menguasai untuk menyanyikan lagu lagu yang soft uantuk dinikmati sambil makan malam.
Bintang tamu lainnya ada saudara tuanya Ireng Maulana yaitu Kibout, yang bagus sekali saat membawakan dengan solo gitar electricnya dalam satu lagu begees, kemudian berlanjut ke nomor brikutnya masih insrument dimana komposisi gitar yang sangat dominan, juga pada permainan gitar saat mengiringi I Got the Blues - gary moore.
Pertunjukkan yang berkesan tsb berakhir mendekati pukul 22, dengan pemberian tepukan kehormatan, amaka usai sudah menyaksikan orang yang begitu lama sudah perdengarkan lagu jazz standar yang sudah pernah direkamnya.
Untuk minggu depan, kalau memang ada waktu, saya berjanji untuk kembali datang kesitu lagi.
Dengan harga makanan yang cukup terjangkau, kami memesan makanan sesusai selera masing masing, karena disitu memang tersedia foodcourt dengan berbagai pilihan makanan.
Ireng maulana memulai pertunjukkan dari pukul 18.30 dan saat kami datang adalah penampilan kedua setelah mereka break makan malam.
Tadi malam menampilkan dua penyanyi yang memiliki suara tidak nge jazz banget tapi cukup menguasai untuk menyanyikan lagu lagu yang soft uantuk dinikmati sambil makan malam.
Bintang tamu lainnya ada saudara tuanya Ireng Maulana yaitu Kibout, yang bagus sekali saat membawakan dengan solo gitar electricnya dalam satu lagu begees, kemudian berlanjut ke nomor brikutnya masih insrument dimana komposisi gitar yang sangat dominan, juga pada permainan gitar saat mengiringi I Got the Blues - gary moore.
Pertunjukkan yang berkesan tsb berakhir mendekati pukul 22, dengan pemberian tepukan kehormatan, amaka usai sudah menyaksikan orang yang begitu lama sudah perdengarkan lagu jazz standar yang sudah pernah direkamnya.
Untuk minggu depan, kalau memang ada waktu, saya berjanji untuk kembali datang kesitu lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)